Labuan Bajo, suaranusantara.co — Tindakan kekerasan yang keji dan di luar batas kemanusiaan kembali mencoreng institusi militer. Seorang oknum anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang bertugas di Kecamatan Pacar nekat menghujani pukulan secara brutal dan sadis terhadap seorang pelajar berusia 17 tahun. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka lebam, bengkak, serta kemerahan yang parah di bagian punggung.
Peristiwa biadab ini terjadi di halaman SMAN 1 Pacar, tepatnya di Noa, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 21.00 Wita.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, tragedi mengerikan ini bermula ketika korban berinisial RES (17), seorang pelajar pria kelas 2 SMAN 1 Pacar asal Golo Lajang, bersama tiga orang rekannya mendatangi sekolah untuk menghadiri acara hari ulang tahun sekolah.
Tanpa alasan yang jelas, korban tiba-tiba disergap oleh terduga pelaku. Korban langsung dicecar dengan sejumlah pertanyaan, dipaksa berlutut di tanah, dan dihujani pukulan secara keji menggunakan selang sebanyak empat kali.
”Saya bersama teman malam itu ke sekolah untuk mengikuti acara ulang tahun sekolah. Begitu kami tiba, tentara itu datang langsung menanyakan siapa anak sekolah di sini, terus kami angkat tangan lalu dia suruh kami berlutut dan memukul kami dengan selang sebanyak empat kali,” ungkap RES saat dikonfirmasi via telepon pada Sabtu (24/10/2026) pukul 21.00 Wita.
Belakangan diketahui, aksi sadis tersebut dipicu oleh insiden pelemparan batu oleh orang tak dikenal yang mengenai seorang siswi sebelumnya. Ironisnya, korban RES sama sekali tidak mengetahui maupun terlibat dalam insiden pelemparan tersebut.
Meskipun terduga pelaku bersama pimpinannya dan pihak sekolah telah mendatangi kediaman orang tua korban untuk meredam situasi, proses hukum dan penyelesaian kasus ini dipastikan masih akan berlanjut.
”Saya tidak tahu isi pembicaraan mereka, tetapi saya dengar orang tua saya akan ke sekolah hari Senin dan kasusnya dilanjutkan,” tambah RES.
Menanggapi tindakan brutal anak buahnya, pimpinan Pos Golo Welu sekaligus perwira tertua di wilayah tersebut, Mustamin, membenarkan bahwa terduga pelaku penganiayaan adalah bawahannya yang bernama Ikhawan Bukang. Ia mengklaim telah berupaya melakukan pendekatan secara kekeluargaan dengan pihak keluarga korban.
”Saya selaku yang tertua sudah melakukan pendekatan secara keluarga dengan orang tua korban, namun masih lanjut hari Senin bersama pihak sekolah. Saya mengenal pelakunya yaitu anggota saya atas nama Ikhawan Bukang, dan yang bersangkutan sudah saya bina dan hukum sesuai dengan tanggung jawab saya sebagai yang tertua di wilayah,” tegas Mustamin melalui pesan WhatsApp.
Di tengah desakan korban untuk mengusut tuntas tindakan keji dan sadis oknum aparat penegak hukum tersebut, awak media terus berupaya mencari keadilan dan keberimbangan informasi.
Konfirmasi resmi telah dikirimkan kepada terduga pelaku, Ikhawan Bukang, melalui pesan WhatsApp pada Minggu (25/10/2026) pukul 10.28 Wita.
Upaya konfirmasi serupa juga telah dilayangkan kepada Komandan Kodim (Dandim) 1630/Manggarai Barat, Letkol Inf. Budiman Manurung.
Namun, sangat disayangkan, pesan konfirmasi yang dikirimkan kepada Dandim maupun oknum anggota TNI terduga pelaku tersebut menunjukkan indikasi pembungkaman.
Pesan terlihat telah tercentang dua dan dibaca, namun hingga berita ini diterbitkan, baik oknum pelaku maupun Dandim 1630/Manggarai Barat sama sekali belum memberikan tanggapan atau klarifikasi resmi.
Catatan Redaksi: Sesuai dengan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ), redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait yang merasa dirugikan untuk menyampaikan Hak Jawab maupun Klarifikasi.










































































