Labuan Bajo, suaranusantara.co — Matahari belum terlalu tinggi ketika derap langkah kaki menjelajah setiap lorong-lorong anak kampung di Desa Surunumbeng, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat. Di balik riak angin pelosok, ada getar harapan yang terlihat kian lama mengendap di benak warga yang mendambakan lahirnya sosok pembawa kemajuan di tengah selama lima tahun mendatang.
Di tanah kelahirannya ini, Kornelis Sugianto hadir bukan sekadar membawa berkas pendaftaran calon kepala desa nomor urut dua, melainkan membawa seberkas nyala untuk membangkitkan desa yang sekian lama terasa berjalan di tempat.
Perjalanan Kornelis menuju panggung kepemimpinan desa bukanlah cerita yang tumbuh dalam semalam. Perjuangan yang penuh kerikil dan duri menjadi cambuk buatnya untuk berjuang mewujudkan impian besar memajukan tanah kelahirannya.
Sosok anak desa yang sederhana ini tidak lelah mengunjungi warganya, mendengar langsung rintih dan keluh kesah warga yang kini mendambakan sosok pemimpin yang hadir bukan sekedar menyapa dan melihat ruang kosong.
Usai menimba kearifan di Seminari Claretian Kupang dan merengkuh gelar S1 Filsafat Unwira Kupang, ia menolak kenyamanan kota besar. Kornelis memilih pulang.
Bertahun-tahun ia mendedikasikan hidupnya menjadi guru—dari SMA Karya Ruteng hingga SMPN 1 Lembor—menanamkan mimpi di dada anak-anak kampung agar berani menembus batas.
Jejak pengabdiannya tak berhenti di papan tulis. Ketika nuraninya tergerak oleh jerit payah para petani di akar rumput, Kornelis mengambil peran sebagai Sekretaris Cabang Serikat Petani Indonesia (SPI) Manggarai Barat.
Dari dinginnya ruang kelas hingga teriknya lumpur sawah, ia mendengar langsung detak jantung warga Surunumbeng: butuh arah baru yang nyata, sanubari yang melayani, dan tata kelola yang berkeadilan.
”Arah perjuangan kami jelas, yaitu kemajuan. Seluruh kebijakan, program kerja, dan pengalokasian anggaran desa nantinya harus bermuara pada satu tujuan: mengubah Surunumbeng dari desa yang berjalan di tempat menjadi desa yang bergerak dinamis ke arah depan,” ungkap Kornelis dengan tatapan teduh namun sarat ketegasan.
Empat Pilar Cahaya Pembangunan
Keberanian Kornelis merajut mimpi Surunumbeng “Naik Kelas” ia tuangkan ke dalam enam pilar strategis yang saling menguatkan:
Berdaya Saing: Merangkul masa depan melalui digitalisasi pelayanan publik, mengasah keahlian digital generasi muda, dan menerbangkan produk UMKM lokal ke pasar yang lebih luas.
Transparan: Membuka pintu keterbukaan anggaran secara terang-benderang lewat media digital dan forum musyawarah, agar tak ada lagi kecurigaan di antara warga.
Sejahtera: Menyentuh urat nadi kehidupan rakyat—menjamin akses kesehatan, memperkuat ekonomi keluarga, memastikan pendidikan anak, serta mengalirkan air bersih dan jalan yang layak.
Gotong Royong: Memanggil kembali roh persaudaraan kampung dengan melibatkan RT/RW dan PKK sebagai jantung pembangunan desa.
Bagi warga Surunumbeng, pilar-pilar ini bukan sekadar deretan kata di atas kertas program. Ini adalah janji seorang anak kampung yang pernah mengajar mereka tentang cita-cita, dan kini kembali untuk mewujudkannya bersama-sama.
Lima tahun ke depan bukan lagi tentang menunggu keberuntungan, melainkan tentang melangkah bersama menjemput masa depan Surunumbeng yang berdikari dan bermartabat.










































































