Labuan Bajo, suaranusantara.co — Kinerja kepemimpinan kepala desa Watu Rambung, Kecamatan Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat, Konstantinus Selamat periode 2018-2026 menuai kritikan pedas dari warga desanya karena dinilai hanya “menumpuk kekayaan pribadi” namun tidak membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat.
Jargon “pembangunan berbasis kemasyarakatan” tampaknya mengalami pergeseran makna yang cukup estetik di bawah nakhoda Sang Kepala Desa, Konstantinus Selamat.
Desa tetangga sibuk membangun infrastruktur, Desa Watu Rambung justru mengadopsi konsep serba minimalis selama masa kepemimpinannya seperti minim air bersih, minim jalan bagus, namun maksimal pencapaian kekayaan pejabatnya.
Saluran Air Beraroma Pasir Laut dan Air Minum Rasa Perjuangan
Mirisnya proyek di desa ini patut diacungi jauh dari harapan masyarakat. Saluran air dari Wae Mose hingga persawahan Daleng disulap menggunakan material pasir laut, sebuah terobosan arsitektur yang menjamin proyek cepat hancur agar anggaran bisa dicairkan lagi.
”Kondisinya rusak parah karena pakai pasir laut. Sawah kami kekeringan,” ujar Dominikus, warga Kampung Bempo yang nasibnya apes karena masih memiliki hubungan kekerabatan dengan sang Kades.
Tak hanya soal irigasi, Kades Konstan juga disorot soal layanan air minum bersih di desanya. Janji manis pelayanan air bersih saat kampanye diwujudkan secara konkret, namun akhirnya memaksa warga berjalan jauh menentang jerigen tiap hari demi mendapatkan air minum. Sebuah program pembentukan otot gratis yang menyengsarakan rakyat.
Transformasi Ajaib: Dari Gaji 2,5 Juta Menjadi “Bank Keliling”
Keajaiban finansial paling spektakuler terjadi di kediaman sang Kepala Desa. Dengan gaji resmi berkisar Rp2,5 juta per bulan, Kades Konstan secara ajaib mampu mengoperasikan “Bank Kredit Rakyat” pribadi dari rumahnya. Warga yang membutuhkan dana bisa meminjam dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah.
”Kami bingung, gaji dua juta setengah tapi bisa pinjamkan uang sampai puluhan juta. Itu uang dari mana? Jangan-jangan ini taktik menjebak warga dalam utang,” sindir Paulus, warga lainnya yang heran melihat ilmu melipatgandakan uang milik sang pimpinan.
Sementara jalan tani tak kunjung dibuka dan bantuan sosial disalurkan dengan sistem tebang pilih alias “hanya untuk lingkaran tercinta”, rumah Kades justru makin mentereng. Pembangunan desa memang benar-benar terjadi, hanya saja lokasinya terbatas di area privat sang Kepala Desa.
Jurus Pamungkas: Mode Bungkam dan Tudingan “Lawan Politik”
Saat dikonfirmasi mengenai rentetan “prestasi” tersebut, Sang Kades menunjukkan kepemimpinan yang sangat responsif.
Bukannya memberikan klarifikasi atas lima poin masalah publik, Kades Konstan justru sibuk menginterogasi wartawan demi melacak identitas warga yang berani bersuara.
”Ini sudah pasti lawan politik. Menyerang pribadi yang sama sekali tidak benar,” cetusnya singkat via pesan WhatsApp, sebelum akhirnya memilih bungkam.
Satu hal yang pasti: jika kemiskinan warga adalah sebuah kegagalan, maka Kades Watu Rambung telah berhasil secara paripurna.










































































