Labuan Bajo, suaranusantara.co – Langkah kaki Kornelis Sugianto terasa mantap saat memasuki halaman Kantor Desa Surunumbeng, Kecamatan Lembor, pada Sabtu (20/6/2026). Di tangannya, tergenggam berkas pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa. Namun di dalam dadanya, tertanam sebuah kerinduan lama saat menyaksikan kondisi desa tempat kelahirannya bergerak maju, tidak lagi berjalan di tempat.
Bagi masyarakat Surunumbeng, kehadiran Kornelis dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) kali ini bukan sekadar meramaikan panggung politik tingkat desa. Ini adalah babak baru dari sebuah perjalanan panjang seorang anak kampung yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan dan advokasi sosial.
”Arah perjuangan kami jelas, yaitu kemajuan. Seluruh kebijakan, program kerja, dan pengalokasian anggaran desa nantinya harus bermuara pada satu tujuan mengubah Surunumbeng dari desa yang berjalan di tempat menjadi desa yang bergerak dinamis ke arah depan,” ujar Kornelis dengan nada bicara yang tenang namun penuh penekanan, usai menyerahkan berkas pendaftaran kepada panitia.
Dari Bangku Seminari hingga Ruang Kelas di Kampung asal.
Untuk memahami keteguhan visi Kornelis, kita harus menengok ke belakang—pada rekam jejak yang membentuk karakter kepemimpinannya. Lahir dan tumbuh di lingkungan yang bersahaja, ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDK Kaca (1987-1993), lalu melanjutkan ke SMPN 1 Cancar (1993-1996) dan SMEA Karya Ruteng (1996-1999).
Perjalanan spiritual dan intelektualnya menemui titik balik yang mendalam ketika ia memutuskan masuk ke Seminari Claretian Kupang (1999-2004). Di sanalah, nilai-nilai kemanusiaan, kesederhanaan, dan semangat melayani sesama ditempa.
Berbekal refleksi filosofis setelah menyelesaikan studi S1 Filsafat di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang pada tahun 2005, Kornelis tidak memilih jalur yang nyaman di kota besar.
Ia memilih pulang, membagikan ilmunya kepada anak-anak di daerah. Dedikasinya sebagai seorang guru dimulai di SMA Karya Ruteng (2006-2007).
Panggilan jiwanya untuk menyentuh wilayah pelosok membawanya mengajar di SMPN Satu Atap Lengkong Cepang (2007-2008), sebelum akhirnya mengabdi cukup lama di SMPN 1 Lembor (2008-2016).
Sebagai pendidik, Kornelis tidak hanya mengajar di dalam kelas. Ia adalah penanam mimpi bagi generasi muda. Salah satu catatan emasnya adalah ketika ia dipercaya memimpin dan membawa rombongan Pramuka luar biasa dari Manggarai Barat untuk berkompetisi di ajang Jambore Nasional 2011 di Palembang.
Sebuah pembuktian bahwa anak-anak dari pelosok NTT mampu berdiri sama tinggi di panggung nasional jika diberi ruang dan bimbingan yang tepat.
Menembus Batas: Jalan Politik dan Advokasi
Setelah bertahun-tahun mengabdi lewat kapur dan papan tulis, Kornelis menyadari bahwa perubahan yang lebih luas dan struktural harus diperjuangkan melalui jalur kebijakan.
Pada tahun 2019, ia memberanikan diri terjun ke dunia politik praktis dengan maju sebagai Calon Legislatif melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Meski garis tangan belum mengantarkannya ke kursi parlemen, semangatnya tidak padam. Ia mengalihkan energinya untuk membela kaum yang lemah.
Pada tahun 2024 hingga 2025, Kornelis dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Cabang Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Manggarai Barat.
Di sinilah ia bersentuhan langsung dengan denyut nadi, keringat, dan jeritan para petani—akar rumput yang menjadi fondasi utama kehidupan di Desa Surunumbeng.
6 Pilar: Ekosistem Menuju Desa Mandiri
Berbekal kombinasi matang antara ketajaman berpikir seorang lulusan filsafat, ketulusan seorang guru, dan ketegasan seorang aktivis petani, Kornelis merumuskan visi besar: membawa Surunumbeng “Naik Kelas”. Visi ini dijabarkannya ke dalam 6 Pilar Strategis yang saling terintegrasi:
Daya Saing Tinggi (Berdaya Saing): Menggenjot potensi desa melalui digitalisasi pelayanan publik, peningkatan keterampilan (skill) pemuda di era digital, serta perluasan pasar produk UMKM lokal ke luar wilayah desa.
Kemandirian Fiskal Desa (Mandiri): Mengurangi ketergantungan bantuan luar dengan mengoptimalkan Pendapatan Asli Desa (PADes) melalui revitalisasi BUMDes dan pemanfaatan lahan produktif yang terlantar.
Transparansi Tata Kelola (Transparan): Menjamin keterbukaan informasi publik terkait anggaran melalui papan pengumuman, platform digital, dan forum musyawarah berkala demi mencegah korupsi.
Kesejahteraan Masyarakat (Sejahtera): Fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar warga, mulai dari penguatan ekonomi keluarga, jaminan akses kesehatan, pendidikan anak, hingga infrastruktur jalan dan air bersih.
Mobilisasi Sosial (Gotong Royong): Mengembalikan marwah gotong royong dengan melibatkan RT/RW, Karang Taruna, hingga PKK dalam pembangunan fisik dan keamanan warga.
Penguatan Kelembagaan (Berwibawa): Membangun wibawa pemerintahan desa melalui penegakan aturan secara adil dan peningkatan disiplin perangkat desa demi menarik investasi luar.
Di akhir pemaparannya hari itu, Kornelis menekankan bahwa keenam pilar ini bukanlah janji politik yang berdiri sendiri, melainkan sebuah ekosistem yang utuh.
Sektor Mandiri dan Berdaya Saing akan menjadi mesin ekonomi, sementara prinsip Transparan dan Berwibawa menjadi fondasi kepercayaan.
Dengan Gotong Royong sebagai motor penggeraknya, ia optimis target mewujudkan masyarakat Surunumbeng yang Sejahtera bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas.
Hari mulai beranjak sore di Lembor, namun bagi warga Surunumbeng, langkah Kornelis Sugianto mendaftarkan diri hari itu adalah sebuah harapan baru yang mulai fajar. Sebuah ajakan untuk tidak lagi berjalan di tempat, melainkan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih bermartabat.










































































