Labuan Bajo, suaranusantara.co — Konflik lahan di Lengkong Warang, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat mendadak memanas, Warga ulayat Mbehal membantah narasi bentrokan antar kelompok dan menegaskan wilayah mereka diserang secara brutal oleh ratusan massa dari warga Rareng pada Rabu (29/7/2026) pagi sekitar pukul 06.30 WITA.
Aksi anarkis tersebut mengakibatkan dua unit mobil Suzuki Carry (warna hitam dan silver), dua unit sepeda motor, serta tiga pondok milik warga ulayat Mbehal hangus dibakar di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, insiden bermula saat ratusan warga Rareng mendatangi kawasan konflik Lengkong Warang. Di sana, mereka memergoki dua warga Mbehal, Karel dan Sukur, yang tengah berada di lokasi.
Kedua warga Mbehal tersebut langsung dihujani serangan hingga terdesak mundur. Massa penyerang kemudian membakar habis pondok dan kendaraan milik warga Mbehal.
Hujan Batu, Tombak, dan Perusakan Altar Adat
Eskalasi di lapangan berlangsung mencekam. Kelompok penyerang dilaporkan melempari warga Mbehal menggunakan batu dan tombak.
Beruntung, lemparan tombak berhasil diamankan warga Mbehal dan dijadikan bukti penyerangan.
Karel, salah satu korban yang mobilnya ludes dibakar, mengidentifikasi salah satu pelaku utama di lokasi kejadian.
”Warga asli Rareng yang saya lihat jelas tadi adalah Blasius Panda dan Mersi Mance. Dia merusak compang (altar adat). Sementara warga lainnya saya duga orang luar yang disewa oleh pihak Rareng,” tegas Karel.
Akibat hujan batu tersebut, sedikitnya tujuh warga Mbehal dilaporkan mengalami luka-luka.
Tak terima atas penyerangan bertubi-tubi itu, warga ulayat Mbehal mengerahkan massa dalam jumlah besar ke TKP untuk menyelamatkan rekan-rekan mereka dan mengamankan lokasi. Pihak Mbehal juga langsung menempuh jalur hukum dengan melaporkan aksi anarkis ini ke Polres Manggarai Barat.
Aparat Siaga Satu di Lokasi Konflik
Hingga berita ini diturunkan, pergerakan massa dari kedua belah pihak masih saling pantau dalam jarak dekat.
Puluhan personel gabungan TNI dan Polri diturunkan ke TKP untuk menyekat pergerakan kedua kelompok, meredam potensi bentrok susulan, serta mengamankan area konflik agar tidak meluas.
Pihak Polres Manggarai Barat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait total kerugian materiil, jumlah pasti korban luka, maupun penetapan tersangka atas peristiwa brutal ini.










































































