Kupang, suaranusantara.co – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores menyisakan duka mendalam sekaligus menguji ketangguhan rasa kemanusiaan yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026)
Di tengah porak-porandanya infrastruktur dan bayang-bayang ketakutan masyarakat, respons cepat dan solidaritas nyata langsung direalisasikan dalam waktu singkat demi memastikan rakyat tidak berjuang sendirian di masa-masa kritis.
DPD PDI Perjuangan NTT mengambil langkah sigap dengan mengaktifkan seluruh jaringan partai hingga tingkat akar rumput untuk terjun langsung ke lokasi terdampak.
Langkah darurat ini diwujudkan lewat aksi konkret yakni mengevakuasi korban, mendirikan dapur umum, hingga penyiapan logistik pangan dan air bersih.
Gerakan Cepat di Titik Kritis
Guncangan gempa yang berpusat di laut—38 km timur laut Mbay, Nagekeo—merusak berbagai fasilitas publik, rumah warga, dan memutus akses jalan utama seperti Trans Ende–Maumere.
Laporan sementara mencatat kerusakan meluas di Sikka, Ende, Nagekeo, hingga wilayah Manggarai Raya, dengan korban jiwa dan luka-luka yang terus didata.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus H. Takandewa, bersama jajaran pengurus memberikan instruksi tegas untuk bertindak cepat tanpa menunda waktu.
Mendirikan dapur umum dan langsung beroperasi di Kabupaten Sikka, Nagekeo, dan Manggarai Barat untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar para pengungsi.
Pelayanan bantuan langsung selain dilakukan di kantor organisasi partai, juga disediakan posko yang didirikan tepat di titik terdampak agar pelayanan masyarakat tidak berjarak.
Seluruh kader bergotong royong dengan tim SAR, memprioritaskan penyaluran air bersih, bahan makanan, dan pendampingan evakuasi.
Menjadikan Politik Kepedulian Nyata
Bagi Yunus, bencana bukan sekadar musibah, melainkan ujian kepemimpinan dan keberpihakan moral.
”Politik, kepemimpinan, organisasi apa saja pasti membutuhkan kecepatan, keberanian, dan konsistensi. Bencana adalah layar perjuangan kemanusiaan. Kami harus hadir lebih awal—bukan untuk panggung politik, tapi memastikan rakyat merasakan kehadiran bantuan saat mereka kehilangan tempat berpijak,” tegas Yunus.
Langkah ini diperkuat dengan koordinasi bersama pimpinan pusat. Tokoh-tokoh nasional seperti Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, dan Sri Rahayu dijadwalkan turun langsung ke lokasi bencana guna menyalurkan bantuan serta memantau kondisi lapangan secara presisi pada Minggu (16/8/2026)
Seluruh aksi darurat ini tetap menyelaraskan komando dengan Badan Penanggulangan Bencana daerah sebagai pemegang kendali resmi.
Di tengah reruntuhan bangunan dan jalur yang terputus, pesan keberpihakan ini menjadi pengingat: ketika Flores berduka, solidaritas dan aksi nyata adalah satu-satunya bahasa yang dibutuhkan rakyat.










































































