Ruteng – Alumni PMKRI Cabang Surabaya, Yuventia Dolorosa Gratia menyoroti molornya kegiatan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI 2026 di Ruteng yang diakibatkan oleh masalah kondusifitas.
Dalam website resminya, MPA PMKRI disebutkan akan terselanggara pada 19-25 Juli 2026. Namun, target itu melenceng hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Yuventia yang pernah menjadi Koordinator Acara Kongres-MPA Surabaya pada November 2013, secara tegas memberikan dukungan kepada panitia Kongres-MPA PMKRI di Ruteng agar lokasi kegiatan dijaga steril dari pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk komitmen untuk menjaga integritas, kemandirian, dan fokus penyelenggaraan kegiatan organisasi.
Yuventia menekankan bahwa ruang kegiatan harus sepenuhnya dikuasai oleh panitia resmi dan peserta yang berhak. Ia secara khusus menyoroti keterlibatan senior-senior yang turut masuk ke dalam proses persiapan teknis (tekbis) kegiatan.
Menurutnya, campur tangan tersebut berpotensi mengganggu proses pembelajaran dan pengambilan keputusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab adik-adik mahasiswa.
“Biarkan adik-adik mahasiswa belajar. Jangan diintervensi atas kepentingan apa pun,” tegas Yuventia.
Ia menilai bahwa Kongres dan MPA merupakan momentum penting bagi kader muda PMKRI untuk mengasah kemampuan organisasi, kepemimpinan, serta kemampuan teknis dalam menyelenggarakan kegiatan besar.
Intervensi yang tidak pada tempatnya justru dapat menghambat proses tersebut dan menimbulkan kesan bahwa kegiatan masih dikendalikan oleh pihak di luar panitia.
Dalam pernyataannya, Yuventia mengajak seluruh elemen PMKRI, terutama senior, untuk memberikan ruang yang cukup bagi generasi muda.
“Dukungan moral, doa, dan semangat boleh diberikan, namun campur tangan langsung dalam urusan teknis, penentuan lokasi, maupun pengelolaan operasional kegiatan seharusnya dihindari. Hal ini penting agar panitia dapat bekerja secara mandiri, bertanggung jawab, dan belajar dari setiap proses yang dilalui” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sterilisasi lokasi bukan berarti menutup diri, melainkan memastikan bahwa hanya pihak yang memiliki kepentingan resmi dan formal yang hadir di area kegiatan.
“Kehadiran pihak luar yang tidak berkepentingan berpotensi menimbulkan gangguan, konflik kepentingan, maupun ketidakfokusan dalam pelaksanaan program” lanjut Yunventia.
Dukungan Yuventia ini diharapkan dapat memperkuat posisi panitia di lapangan. Dengan adanya sikap tegas dari tokoh yang pernah terlibat dalam Kongres-MPA sebelumnya, panitia diharapkan semakin berani menegakkan aturan dan menjaga wilayah kegiatan.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk edukasi bagi seluruh kader bahwa proses organisasi harus dijalankan dengan profesionalisme, kejujuran, dan penghormatan terhadap peran masing-masing generasi.
Yuventia menutup pernyataannya dengan harapan agar Kongres-MPA PMKRI di Ruteng dapat berjalan sukses, damai, dan menjadi pengalaman berharga bagi adik-adik mahasiswa.
“Mari kita jaga bersama agar kegiatan ini benar-benar menjadi milik panitia dan peserta yang berhak. Biarkan mereka belajar, tumbuh, dan bertanggung jawab tanpa tekanan kepentingan lain,” ujarnya.
Pernyataan dukungan ini diharapkan menjadi rujukan bagi seluruh pihak terkait untuk saling menghormati peran dan memberikan ruang yang sehat bagi regenerasi kepemimpinan di tubuh PMKRI.*










































































