Labuan Bajo, suaranusantara.co – Baru sebulan lalu Proyek Nasional pengerjaan Jalan jalur Lancang menuju Multipurpose Peti Kemas Wae Kelambu yang ditinjau langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Jumat 14 November 2025 kini mengalami longsor pada bagian tebingnya membuat pengguna jalan resah dan tidak aman.
Sementara PT Brantas Abipraya (Persero) selaku kontraktor pelaksana menyatakan komitmennya mendukung pembangunan nasional dengan mempercepat pekerjaan Perbaikan Alinyemen Jalan Akses Pelabuhan Multipurpose Peti Kemas Wae Kelambu di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Pembangunan Infrastruktur ini sejalan dengan program Asta Cita khususnya dalam pemerataan pembangunan infrastruktur dan penguatan ekonomi daerah.
Tak hanya itu pekerjaan ini merupakan salah satu upaya Brantas Abipraya untuk mendukung Labuan Bajo, NTT sebagai Destinasi Wisata Super Prioritas (DPSP).
Komitmen mendukung program nasional ini akhirnya menjadi mala petaka bagi para pengguna jalan saat melihat kondisi longsor yang meresahkan.
Keresahan didukung juga oleh kondisi intensitas curah hujan beberapa minggu terakhir yang melanda Labuan Bajo sehingga menyebabkan longsor di beberapa titik di jalan menuju obyek vital pelabuhan Multipurpose Peti Kemas Wae Kelambu.
Salah satu pengguna Jalan menuturkan bahwa jalan itu juga adalah akses dari beberapa kampung di kecamatan Boleng yang tiap hari digunakan warga untuk kegiatan ekonomi mereka, menjual hasil tangkapan ikan, sayuran dan hasil bumi lainnya.
“Kami sangat takut melewati jalur itu. Bebatuan jatuh ke jalan dari tebing yang menjulang tinggi setelah bukit dipotong agar jalan lebih landai dan memudahkan truk bermuatan besar dari pelabuhan mudah melewatinya. Saya lihat kontraktor yang buat jalan ini kerja tidak benar sehingga jalan ini rusak cepat padahal baru saja diresmikan,” ungkap Agus salah satu pengguna jalan asal Desa Tanjung Boleng kepada suaranusantara.co, Sabtu 17/1/2026.
“Padahal mereka telah memasang semacam Bronjong dengan baut-baut besar yang menancap ke dinding batu tebing jalur itu Sebagai penahan baru. Tapi jebol juga,” Sambungnya
Kata Agus proyek yang menelan anggaran puluhan miliar ini, justru membuat kondisi semakin berbahaya. Sebelum proyek pemotongan bukit ini, tidak ada longsor.
Ia menambahkan ini proyek nasional yang di-subkan kepada dua kontraktor lokal, keadaan malah jadi lebih buruk dan licin.
“Apa lagi ada gudang tempat kendaraan-kendaraan proyek besar keluar masuk, membuat keadaan semakin buruk karena licin akibat lumpur dari roda kendaraan proyek milik kontraktor di lokasi itu,” tandas Agus
Agus menduga, pekerjaan itu dilakukan tidak profesional, dan minim pengawasan publik sehingga hasilnya seperti sekarang ini, area itu menjadi tempat horor karena sesekali batu bisa jatuh menimpa kepala kita yang lewat.
“Rekanan lokal kontraktor nasional itu diduga menggunakan alat-alat kerja yang tidak memadai, kerja asal jadi dan hasilnya tidak berkualitas,” pungkas Agus sembari menunjukan beberapa titik jalan yang longsor dan terlihat batu terguling ke badan jalan.
Agus meminta Penegak hukum agar segera audit proyek ini, dan polisi segera menangkap kontraktor lokal yang kerjakan proyek tidak bermutu.
Pihaknya juga akan melakukan aksi bila proyek ini tidak segera ditindak oleh penegak hukum dan meminta agar segera diperbaiki demi mencegah bahaya yang akan dialami oleh pengguna jalan.








































































