Malang, Suaranusantara.co – Dalam rangka merevitalisasi konsep pastoral yang semakin baik, para pastoral mesti membuat big data yang secara komperhensif mendokumentasikan konsep dan model penghayatan pastoral yang secara cemerlang pernah dikembangkan oleh Pastor Jansen, CM. Hal tersebut disampaikan oleh Rm. Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto, CM sebagai salah satu narasumber dalam hari ketiga Simposium Nasional bertema Revitalisasi Konsep Pastoral Pastor Paul Janssen untuk Gereja Katolik Indonesia pada Kamis (14/10/2021). Simposium tersebut berlangsung di Wisma Unio Keuskupan Malang sejak 12-16 Oktober 2021.

Menurut Prof. Armada, big data amat penting, karena konsep dan model pengembangan pastoral yang dibuat oleh Pastor Paul Janssen memiliki kompleksitas dan kebernilaian yang amat tinggi bagi Gereja Katolik Indonesia. Memiliki kompleksitas karena karya pastoral Pastor Janssen tidak terlepas dari beberapa konteks yang melatarbelakanginya. Pertama, Pastor Janssen adalah salah seorang utusan Gereja Katolik Indonesia yang mengikuti Konsili Vatikan II (1962-1965). Dalam konsili tersebut, perhatian terhadap peran awam dalam karya-karya misi dan pastoral Gereja sangat diperhatikan. Hal itu misalnya tertuang dalam salah satu dokumen penting Konsili Vatikan II, yaitu Apostolicam Actuositatem.
“Dugaan saya, pembukaan sekolah tinggi kateketik merupakan bagian dari usaha Romo Janssen menjawabi salah seruan Konsili Vatikan II, agar awam katolik terlibat aktif dalam karya misi Gereja Katolik. Dalam konteks itulah, dapat dikatakan bahwa Pastor Janssen adalah fundator dalam mempersiapkan awam katolik terdidik bagi karya Gereja Katolik Indonesia,” tegas Ketua STFT Widya Sasana Malang itu.
Konteks lain yang memengaruhi karya pastoral Pastor Janssen adalah spirit dan karisma yang dialirkan Pendiri Kongregasi Misi (CM), yaitu Santo Vincentius a Paulo. Sebagai anggota Kongregasi Misi, Pastor Janssen tentu saja menghidupi spiritulitas yang diajarkan Santo Vincentius a Paulo, yang salah satunya adalah perhatian mendalam terhadap orang miskin.
“Dalam spiritualitas vinsensian, dalam diri orang miskin tampak wajah Yesus sendiri. Romo Janssen melihat wajah Yesus dalam diri kaum difabel. Spiritualis dan karisma ini boleh jadi merupakan motivasi dasar yang menggerakkan karya pastoral Pastor Janssen,” imbuh Armada.
Selain membuat big data, menurut profesor dalam bidang filsafat ini, amat perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut secara kreatif konsep dan karya pastoral Paul Janssen, CM untuk Gereja Katolik di Indonesia dewasa ini. Pengembangan tersebut dilakukan melalui keberanian untuk membuat kajian kritis terhadap konsep pastoral Paul Janssen, CM dalam rangka pengembangan ilmu teologi pastoral di Indonesia.
Oleh karena itu, menurut Prof. Armada, para dosen dan mahasiswa teologi dan pastoral di Indonesia, perlu secara tekun mengembangkan ilmu teologi dan pastoral melalui penelitian-penelitian di bidang pastoral, dan berani mempublikasikan penelitian-penelitian tersebut baik dalam skala nasional maupun internasional.