Labuan Bajo, suaranusantara.co – Nasib naas menimpa satu keluarga yang mengalami kehilangan tempat tinggal setelah ambruk diterpa badai puting beliung pada tanggal 15 September tahun 2023. Kini mereka hanya mampu bertahan tinggal dalam sebuah gubuk yang tidak layak huni.
Korban adalah Hironimus Joy warga dari Kampung Nara, Desa Wae Kanta, tinggal di Polo salah satu kampung yang terletak di wilayah kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Meskipun bencana ini telah dialaminya sejak tiga tahun yang lalu namun pihaknya baru menyampaikan keluhan ini kepada suaranusantara.co saat menemuinya di gubuk kediamannya pada Minggu, 11/1/2026
Kini mereka sekeluarga tinggal di gubuk sebagai rumah tempat hunian sementara bersama istri dan seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Gubuk kecil yang mereka tempati sampai sekarang terbuat dari sisa atap rumah yang tertimpa bencana.
Rumah yang semula berukuran 6×7 m², berdinding setengah tembok, ke atasnya dinding papan dan beratap sengk, dengan kondisi kayu sudah lapuk akhirnya ambruk diterpa angin puting beliung hingga atapnya terangkat serta fisik rumah roboh.
Saat ini korban tidak bisa membangun rumah baru, meskipun ia mengaku telah menyediakan material berupa kayu, satu tahun pasca terjadinya peristiwa naas itu.
Menurut penuturannya kepada wartawan, setelah kejadian itu pemerintah kelurahan Tangge mendatangi TKP untuk survei dan data kejadian itu sudah berada di pihak pemerintah kelurahan.
Pihaknya juga pernah datang di Kantor DPRD bersama Vitus Usu untuk mengantar laporan bencana tersebut dan disambut baik oleh Martinus Mitar yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPRD Manggarai Barat.
Kunjungan yang dilakukannya bertujuan agar mendapat perhatian dari DPRD Manggarai Barat selaku yang diketahuinya sebagai corong aspirasi masyarakat.
Selain itu ia (Hiro) panggilan dari korban mengakui bahwa dokumen yang sama pernah diserahkannya juga di lantai dua Kantor Bupati Manggarai Barat, semasa Edi Endi menjabat sebagai Bupati pada periode pertama.
Sebulan setelah mengantar laporan itu keluarga korban didatangi oleh Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat
“Setelah kejadian itu pemerintah kelurahan Tangge langsung buat laporan dan waktu itu saya diajak oleh pa Vitus Usu untuk pergi ke kantor Bencana dan ke kantor DPRD unntuk bertemu dengan Pa Marten Mitar waktu dia masih ketua DPRD. Lalu saya sendirian antar laporan ke Kantor Bupati sekaligus ingin bertemu Bupati namun waktu itu Bupati tidak ada dan saya disuruh oleh pegawai untuk antar laporan itu di ruangan wakil Bupati. Karena wakil Bupati juga tidak ada maka petugas kebersihan di ruangan itu menawarkan untuk menyimpan laporan itu di meja Wakil Bupati,” tutur Hiro yang kesal karena usahanya tidak membuahkan hasil.
Walaupun keluarga Hiro telah mendapat bantuan darurat dari Dinas Sosial, namun ia juga tak henti-hentinya mempertanyakan pelayanan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang sudah datang melihat langsung kejadian itu sebulan setelah mengantar laporan bencana.
“Waktu petugas bencana datang melihat keadaan bencana di rumah saya mereka sempat foto saya dengan istri lalu menjanjikan untuk datang lagi dalam waktu dua minggu namun kenyataannya sampai sekarang tidak datang-datang. Sampai sekarang kami bingung dan terus bertanya apa gunanya data itu diambil lalu sampai sekarang kami tidak tahu apa alasan mengapa mereka tidak berikan kami penjelasan apakah ada atau tidak bantuan itu,” Keluh Hiro yang kini masih pertanyakan pelayanan dari Bencana Daerah.
Dalam rangka mendapatkan informasi terkait keluhan korban, awak media ini berupaya menghubungi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Oktavianus Andi Bona Adu melalui pesan Whatsap pada Minggu 11/1/2026, Pkl. 17.53 Wita.
Dengan singkat ia menjawab “Baik, nanti saya cek besok di Kantor, terimakasih informasinya,” Balas Kaban itu.
Pesan yang sama, juga disampaikan melalui whatsap kepada Stefanus Ibar yang kini menjabat sebagai Kepala Kelurahan Tangge.
Meskipun pihaknya belum merespon pertanyaan wartawan namun ia hanya mengatakan “Besok saja, saya lagi ada acara keluarga,”
” Minta maaf, pengaruh saya ada sibuk, sy tidak pegang HP,” Sambung Lurah yang kerap disapa Stef itu.
Sementara itu Marten Mitar selaku Ketua DPRD Manggarai Barat kala itu juga sudah dikonfirmasi oleh awak media ini melalui pesan whatsap.
pesan tersebut sudah tercentang dua warna biru dan sudah terbaca namun hingga berita ini diterbitkan pihaknya belum merespon konfirmasi wartawan.







































































