Labuan Bajo, suaranusantara.co — Menunggu janji pemerintah ibarat menanti hujan di musim kemarau: penuh ketidakpastian. Realitas pahit inilah yang harus ditelan ratusan warga terdampak letusan Gunung Lewotobi di Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Dicegah kembali ke rumah karena zona bahaya, namun Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan tak kunjung berwujud, warga kini terpaksa memutar otak agar dapur tetap mengepul.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ILMU memutuskan untuk tidak tinggal diam. Alih-alih hanya memberi ikan, mereka memilih memberi kail.
LSM ILMU turun tangan membagikan peralatan pertanian berupa parang dan sekop kepada ratusan warga di Hunian Sementara (Huntara) pada Kamis (16/7/2026),
Ironi Baju “Kita Bangkit” di Tengah Ketidakpastian
Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebenarnya tidak lepas tangan. Bantuan logistik berupa beras 25 kg per Kepala Keluarga (KK) per bulan, minyak goreng, mie instan, hingga sabun mandi rutin digelontorkan. Namun, hidup di pengungsian dengan jatah yang fluktuatif tentu tidak bisa menjamin masa depan.
Sebuah rekaman video berdurasi 1 menit 52 detik yang diterima redaksi memperlihatkan getirnya bertahan hidup.
Ironisnya, salah seorang warga yang mengenakan kaos bertuliskan Victory Joss dengan slogan mentereng “Kita Bangkit Kita Sejahtera”, justru melempar keluh kesah yang berbanding terbalik dengan tulisan di bajunya.
”Saya sekarang di Konga. Saya terpaksa minta lahan ke salah satu keluarga di sini untuk bangun hunian mandiri buat anak istri. Kalau cuma bertahan di Huntara, kami tidak bisa menyambung hidup,” keluhnya.
Terkait janji Huntap, warga tersebut mengaku hanya bisa meraba dalam gelap.
“Kami tidak tahu kapan dipindahkan. Jalan menuju lahan Huntap baru saja dibuka, tapi kapan rumahnya dibangun? Kami tidak tahu,” bebernya.
Bergerak Mandiri Sebelum Kelaparan
Ketua LSM ILMU, Dionisius Parera, mengaku terenyuh melihat kepasrahan warga yang digantung oleh ketidakpastian birokrasi.
Senjata berupa parang dan sekop sengaja dipilih agar warga bisa kembali produktif dan tidak ketergantungan pada posko bantuan.
”Kemarin kami bagikan peralatan pertanian agar para petani korban letusan Lewotobi bisa mulai menggarap lahan demi mempertahankan hidup,” ujar pria yang akrab disapa Doni ini melalui keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).
Doni menegaskan bahwa bantuan ini adalah respons cepat terhadap lambatnya realisasi hunian dari otoritas terkait.
“Sangat sedih melihat mereka hidup dalam ketidakpastian. Dengan alat kerja seadanya ini, minimal mereka punya modal awal untuk menyambung napas secara mandiri,” tambahnya.
Di akhir keterangannya, Doni juga mengetuk pintu hati publik. Ia mengajak masyarakat luas untuk tidak menutup mata dan turut mengulurkan tangan bagi ratusan jiwa yang masih terjebak dalam keterbatasan di camp pengungsian Lewotobi.










































































