Labuan Bajo, suaranusantara.co – Belum sebulan bekerja Karyawati kuliner Nusantara Ayu Bajo langsung mengundurkan diri alasan gaji kecil dan merasa diperlakukan tidak sesuai kesepakatan awal. Menanggapi tuntutan pekerja, pemilik usaha Nusantara Ayu Bajo mengatakan kedisiplinan dan konsisten sebagai dari setiap pekerja merupakan syarat mutlak yang wajib dimiliki untuk mendukung kelancaran aktivitas bisnis kuliner di tengah ketatnya persaingan yang usaha di Labuan Bajo.
Pemilik usaha kuliner Nusantara Ayu Bajo bernama Ayu dan suaminya Marianus menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memecat Ory dia sendiri memilih mengundurkan diri berdasarkan informasi yang disampaikan oleh rekannya bernama Eka.
Bagi mereka ini bukan masalah gaji dan perlakuan tetapi soal kedisiplinan kerja tingkat konsisten karyawati yang bekerja di tempat usahanya. Kebanyakan anak cendrung sibuk dengan handphone saat jam kerja dan banyak ijin baik karena sakit maupun urusan yang lain.
Gaji dan bonus itu akan dengan sendirinya diterima bila pekerja menunjukan kedisiplinan dan konsisten dengan perjanjian yang telah disepakati bersama meskipun tidak tertuang secara tertulis.
“Soal gaji kalau untuk anak anak anak yang khusus membantu di rumah saya kasih awal 1 juta tetapi saya lihat dulu kinerja kerja mereka, kalau baik, meningkatkan kualitas kerjanya dengan baik otomatis tiga bulan berikutnya saya naikan gaji tetapi tetap melalui kesepakatan. Mereka sudah tahu semua kesepakatan tentang gaji,” ungkap Ayu selaku pemilik UMKM Kuliner Nusantara Ayu Bajo yang terletak di jalan Daniel Gampur, Desa Gorontalo Kecamatan Komodo Kabupaten Manggarai Barat kepada awak media ini, Rabu (11/3/2026)
Menurut Ayu disiplin dan konsisten dengan kesepakatan adalah modal utama agar merasa aman dan betah di tempat kerja. Namun faktanya berbeda dengan yang dihadapinya akhir akhir ini saat berhadapan dengan karyawati baru di tempat usahanya.
“Umumnya mereka itu tidak bisa bekerja dengan disiplin dan konsisten jadi hal yang sama selalu saya sampaikan berulang ulang. Kadang pekerjaan itu selesai kadang juga tidak diselesaikan dengan baik. Kalau di tempat saya sebenarnya sejak awal saya sudah peringatkan bahwa boleh pegang hp setelah pekerjaan selesai. Sebaiknya jangan pegang handphone saat masih jam kerja tetapi itu berulang kali saya sampaikan masih juga buat yang sama akhirnya saya memilih diam saja. Saya mau mereka harus paham dengan dunia kerja yang baik dan benar,” beber Ayu dengan nada kesal menyaksikan tingkah laku kedua karyawatinya itu.
Terkait adanya perubahan jam kerja yang terjadi di tempat usahanya ia mengatakan hal itu merupakan kebiasaan yang sering kali terjadi tetapi selalu berlandaskan kesepakatan bersama.
“Kalau soal jam kerja saya tidak bisa memastikan misalnya dari jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Tidak semuanya begitu, terkadang saya membuat perubahan jam tetapi semua perubahan itu saya lakukan atas kesepakatan dengan pekerja. Tidak sembarangan saya merubah aturan jam kerja sesuka hati saya tanpa kesepakatan dengan mereka. Terkadang saya suruh mereka datang cepat tetapi berdasarkan kesepakatan,” tandas Ayu
Berangkat dari pengalaman semenjak Ayu dan Martinus memulai usaha kuliner selama bertahun tahun baru sekarang keduanya mengalami hal pahit setelah menerima Ori dan Eka menjadi karyawati di tempat usahanya.
Keduanya mengisahkan sudah banyak karyawati sebelumnya yang sudah sukses membangun usaha sendiri dan ada juga yang masih bertahan bekerja pada tempat usahanya hingga sekarang karena tekun, disiplin dan patuh pada kesepakatan.
Ia juga membeberkan masalah pemotongan gaji yang dipersoalkan serta kelakuan karyawati yang sering kali ijin. Niat sebenarnya adalah untuk memotivasi pekerja agar rajin bekerja.
“Soal pemotongan gaji juga semua dari awal saya beritahukan setiap satu kali tidak datang kerja saya potong gaji 50.000. Kenapa saya buat sepert itu sebenarnya saya juga tidak sembarang memotong gaji orang sampai 50.000 perhari. Sebenarnya saya lakukan untuk meningkatkan semangat mereka agar tetap semangat dan rajin datang kerja. Karena setahu saya selama anak anak bekerja di sini, baru masuk satu minggu bekerja satu hari langsung ijin karena ada acara inilah acara itulah sakit lah. Bukan saya tidak percaya orang sakit tetapi saya buat begitu hanya untuk memotivasi semangat kerja agar mereka berpikir apa gunanya kerja sementara gaji dipotong,” Pungkas Ayu
Menanggapi status yang diunggah oleh karyawati bernama Ori, Suami Ayu, Marianus sangat terganggu dan mencemari usahanya apa lagi memprovokasi orang untuk tidak boleh melamar di tempat usahanya. ia mengatakan itu tidak benar.
“Saya sampaikan sekali lagi postingan Ori di Facebook itu tidak benar sementara kami masih membutuhkan dia cuman dia hanya terpengaruh dengan kata kata dengan Eka saat kami katakan kamu keluar saja dari sini. Dianggapnya kata kamu ini ditujukan kepada Ori juga padahal maksud kami hanya untuk Eka saja karena Eka yang akan kami keluarkan itu pun dia bertahan karena dia minta sendiri untuk lanjut kerja saat suaminya rawat di Rumah sakit. Kami sekeluarga juga meminta maaf jika ada kata kata atau cara kami yang membuat siapa saja tersinggung atas kejadian ini,” tutur Marianus
Persoalan ini mencuat ke publik dan sontak memantik kecaman netizen setelah seorang karyawati bernama Ory yang belum genap sebulan bekerja pada usaha milik Ayu mengunggah status di media sosial facebook dengan mengumbar segala permasalahan yang terjadi ditempat ia bekerja.
Karyawati dengan nama lengkap Maria Bernadeta Glori (23) yang kerap di sapa Ory mulai bekerja di kuliner Nusantara Ayu Bajo sejak 18 Februari dan mengundurkan diri pada 10 Maret 2026 sedangkan Eka masuk kerja sejak 1 Februari 2026
Membaca status facebook yang diunggahnya awak media ini mencoba menghubungi Ori untuk mengirimkan voice note dengan menceriterakan kasus yang sedang dialaminya di Kuliner Nusantara Ayu Bajo.
“Saya kenal dia itu dari saya punya teman trus Dia tawarkan saya bekerja di situ dengan perjanjian kerja gaji 1.200 plus bonus dengan aturan kerja yang pertama dari jam 7.30 sampai jam 5.30 setelah itu dia rubah aturan kerja dari jam 7.00 sampai jam 5.30 nah itu saya sudah hitung jumlah jam kerjanya sudah lebih dari 8 jam kerja,” ungkap Ori kepada wartawan pada, Rabu siang.
Dalam pengakuannya, Ory membantah semua keterangan yang disampaikan oleh majikannya soal gaji kecil, pemotongan gaji dan terkait jadwal makan yang telah disepakati.
“Trus dia punya perjanjian juga kalau misalnya kita ijin karena sakit atau apa pun gajinya dipotong satu hari 50.000. Alasan saya keluar itu saya sudah mulai tidak nyaman kerja dengan dia. Pertama dia memperlakukan saya secara tidak baik kedua dalam perjanjian kerja itu makan dua kali sehari tetapi makan pagi dikasih jam 11siang tnggu selesai kerja dulu trus untuk makan siang kami dikasih makan siang tnggu jam 14.30,” imbuhnya
Alasan utama ia ingin keluar dari tempat kerjanya karena merasa diperlakukan seperti pengemis sementara ia sendiri juga mengakui tugas pokoknya sebagai karyawati yang hanya diterima untuk bekerja selama satu bulan.
“Nah kenapa saya ingin keluar tanpa dia pecat karena dia memperlakukan kami seperti pengemis karena kemarin itu Labuan Bajo hujan deras dari pagi sampai siang. Trus tugas kami setiap pagi itu bersihkan prabot prabot untuk jualan di Water front karena dia ada jualan di Water fron nah yang lain kami sudah cuci lalu saya bilang dengan teman sebentar baru kita cuci ini prabot soalnya ini masih hujan kalau kita cuci di dalam takutnya becek lalu kami duduk sambil menanti hujan redah apa lagi tidak ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan jadi kami diam saja. Jam 10 pagi dia bangun langsung cek prabot lalu dia tanya kenapa belum cuci kalian buat apa dari tadi lalu kami katakan tnggu berhenti hujan baru kami cuci takut becek kalau cuci di dalam. Dia angkat prabot ini bawa ke dalam lalu dia diam dan tidak mau omong jadinya kami bingung mau buat apa sudah lalu dia sindir sindir kami. Dia katakan kepada kami bahwa semua pekerjaan sudah saya selesaikan sendiri kenapa kamu masih duduk di sini lebih baik pulang to,” terang Ory dengan nada seolah terbawa perasaan atas sikap diam dari majikannya.
Niat Ori untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya berujung menuai kekecewaan setelah ia mengetahui perlakuan yang dianggapnya menyakitkan.
“Saya bekerja di situ untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam rumah tangga tetapi ketika saya diperlakukan seperti itu maka saya minta untuk mengundurkan diri. Saya berharap di tempat lain juga tidak ada perlakuan seperti ini di tempat kerjanya,” ujarnya.










































































