Labuan Bajo, suaranusantara.co – Pasar Wae Kesambi, yang seharusnya menjadi pusat denyut ekonomi warga, mendadak berubah mencekam. Sebuah insiden kekerasan fisik menimpa Sebastianus, petugas Juru Parkir (Jukir) dari Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai Barat, yang diduga dicekik oleh oknum pedagang liar saat sedang menjalankan tugas penertiban.
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan detik-detik menegangkan tersebut. Perselisihan bermula ketika petugas hendak menegur pedagang yang menggunakan bahu jalan sebagai lapak dagangan, sebuah area publik yang dilarang untuk aktivitas jual beli karena memicu kemacetan.
Insiden menegangkan ini terjadi di Pasar Wae Kesambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (13/3/2026
Kesaksian di Garis Depan
Sebastianus, sang juru parkir, masih mengingat jelas bagaimana situasi memanas dalam sekejap. Ia mengaku hanya menjalankan fungsinya untuk memastikan kelancaran lalu lintas di area pasar.
”Kemarin saya dicekik dan ada juga yang lain mendorong saya. Mereka banyak orang kemarin setelah itu langsung kabur dan kasus ini sudah sering kali menjual sayur di bahu jalan dan sering ditegur tetapi tidak dihiraukan,” jelas Sebas kepada awak media, Sabtu (14/3).
Meski terbiasa dengan dinamika lapangan, Sebas menyesalkan tindakan anarkis tersebut. “Saya hanya menjalankan tugas sebagai seorang juru parkir untuk mengatur tempat parkir kendaraan dan menegur orang yang berjualan di bahu jalan. Kasus ini sudah ditangani langsung oleh pihak Dinas,” tandasnya.
Dilema “Pedagang Liar” dan Ketertiban Umum
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Manggarai Barat, Gabriel Bagung atau yang akrab disapa Gebi, turut turun ke lapangan untuk memantau situasi. Baginya, insiden ini adalah alarm bagi pentingnya saling menghargai antara pelaku usaha dan petugas negara.
”Saya sudah himbau kepada semua pedagang di Pasar Batu Cermin agar menghargai semua petugas baik dari dinas Perhubungan, Polisi Pamong Praja maupun petugas dari dinas Perdagangan. Mereka lakukan tugas sesuai dengan aturan, sesuai dengan regulasi yang ada,” ujar Gebi saat ditemui Sabtu siang.
Di balik ketegasannya, Gebi mengaku berada dalam posisi dilematis. Ia menyadari peran pedagang dalam memasok kebutuhan pokok, namun aturan tetap harus ditegakkan demi keadilan bagi pedagang lain yang tertib membayar retribusi.
”Sebenarnya saya tidak tega mengatakan ini pedagang liar karena tanpa mereka juga belum tentu pasokan kebutuhan pasar kita di sini terpenuhi. Semua pedagang pasti dilindungi oleh Kadis Perdagangan, nah ini keterlaluan karena tempat kita sudah siapkan untuk mencegah terjadinya perselisihan antara pedagang. Dia yang jual di luar boleh laris barang dagangannya dan jual murah karena bebas bayar sampah dan bayar stan, sedangkan teman-teman lain yang ada di dalam diperhadapkan dengan kewajiban seperti itu,” pungkasnya.
Sudut Pandang Berbeda dan Kritik Prosedur
Namun, cerita dari balik aspal pasar tak selalu searah. Saverius, seorang pedagang senior yang telah 23 tahun berjualan, memberikan perspektif lain terkait sosok Sebas. Ia menilai karakter petugas terkadang turut memicu gesekan.
”Petugas itu sering buat ulah terkadang ia marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Kalau kami sudah menganggap itu sebagai kebiasaan yang dia lakukan terhadap kami. Mungkin oknum yang melakukan tindakan tersebut orang baru sehingga dia tidak mengenal sifatnya,” terang Saverius.
Senada dengan itu, Erwin, warga asal Bajawa, mengaku mendengar kabar bahwa insiden tersebut dipicu oleh perilaku petugas yang dianggap kurang etis.
“Infonya bahwa teman itu anak baru dan persoalan itu terjadi karena ada kata-kata dari jukir yang mengeluarkan kata kasar dan membuang ludah kepada para penjual,” tuturnya.
Kecaman dan Tuntutan Keamanan
Sentimen kedaerahan sempat menyeruak menyusul insiden ini. Aktivis sosial Ricky Morgan mengutuk keras aksi kekerasan tersebut melalui pernyataan sikap tertulis dan orasi yang emosional.
”Saya Ricky Morgan warga Manggarai Barat yang peduli terhadap Manggarai Barat. Saya merespon tindakan premanisme yang datang dari luar. Kami punya harga diri di sini jangan merusak tatanan kehidupan sosial di sini dan mengganggu ketentraman orang Manggarai Barat, orang Manggarai,” tegas Ricky sembari membawa selebaran bertajuk “Save Pasar Rakyat Manggarai Barat”.
Hingga laporan ini disusun, redaksi masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari Kepala Dinas Perhubungan dan Kasat Pol PP Manggarai Barat terkait langkah pengamanan lanjutan di lokasi.
Identitas oknum pedagang yang melakukan aksi pencekikan pun masih dalam proses penelusuran oleh pihak berwenang.
Persoalan di Wae Kesambi kini bukan sekadar masalah parkir atau sayuran, melainkan ujian bagi tata kelola ruang publik dan kedewasaan berwarga di kota pariwisata super premium tersebut.










































































