Labuan Bajo, suaranusantara.co – Karyawati Kafe Taka mengakui adanya insiden penembakan menggunakan senapan angin yang dilakukan oleh Orang Tak Kenal (OTK) namun dikatakannya hanyalah iseng saja dan dibesar besarkan oleh media.
Sementara keberadaan Kafe ini selalu mendapat sorotan warga sekitar juga tidak mengantongi ijin keramaian pada RT setempat juga merasa terganggu dengan keributan yang terjadi saat menggelar ivent Game Mobil pada Sabtu malam, 1 Maret 2026 sekitar pukul 23.00 Wita.
Kafe ini terletak di Jalan Bidadari, tepat di depan Puskesmas Labuan Bajo, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Manggarai Barat, merupakan milik sejumlah dokter yang bertugas di RSU Siloam Labuan Bajo.
Pengakuan terhadap adanya insiden ini disampaikan oleh salah seorang karyawati Kafe saat di datangi oleh wartawan media ini bertempat di ruangan resepsionis pada Kamis (5/3/2026) siang
Ia menerangkan bahwa insiden penembakan itu benar terjadi pada malam minggu, saat dilakukan ivent Game Mobil tetapi bukan merupakan persoalan serius.
“Ya benar ada kejadian penembakan saat itu tetapi hanya iseng saja makanya kami tidak menganggap kejadian itu sebagai persoalan yang serius, cuman berita media saja yang membesar besarkan kejadian itu,” tutur karyawati yang enggan meyebutkan namanya itu kepada wartawan.
Saat ditanya terkait keributan yang menimbulkan gangguan bagi warga sekitar, Ia membantah bahwa tidak ada keributan di Kafe pada saat itu cuman suara MC saja yang terdengar sedikit besar.
“Tidak ada keributan, cuma suara MC saja yang besar tetapi tidak kedengaran sampai di luar. Kami di sini tidak merasa terganggu,” pungkasnya
Terkait korban yang terkena peluru dalam penembakan itu ia membenarkannya meskipun dirinya mengatakan bahwa menjelaskan kejadian itu bukan wewenangnya.
“Ya korbannya seorang guru yang mengajar di SMP Lentera Harapan tetapi tidak hanya dianggap biasa saja,” ujarnya sembari meminta wartawan untuk menemui owner Kafe yang bertugas sebagai Dokter di Rumah Sakit Siloam.
Sementara sejumlah warga mengaku terganggu dengan suara musik yang diputar dan kebisingan pengunjung dari dalam kafe hingga larut malam. Mereka menilai kegiatan tersebut tidak sejalan dengan suasana Ramadan yang identik dengan ketenangan dan kekhusyukan ibadah.
“Ini bulan puasa, seharusnya bisa saling menghargai. Aktifitas para pengunjung cukup ramai dan bunyi musik cukup keras sampai malam,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Rabu, 4 Maret 2026.
Selain soal kebisingan, warga juga mempertanyakan legalitas kegiatan yang digelar. Berdasarkan penelusuran awak media ini kegiatan itu diduga belum mengantongi izin dari Ketua RT maupun pihak kelurahan setempat. “Kami tidak tahu ada izin atau tidak. Setahu kami tidak ada pemberitahuan ke warga,” kata warga lainnya.
Ketua RT setempat yang bernama Iye mengaku mengetahui kejadian itu. Dirinya melihat banyak orang yang turun sampai ke rumahnya.
“Waktu itu saya lihat banyak orang turun sampai ke sini, saya pun ikut mencari di ruko sebelah, kebetulan tidak tutup,” ungkapnya kepada Suara Nusantara.
Soal peristiwa penembakan itu, Iye mengaku berdasarkan informasi sudah dilaporkan ke Polisi, namun kata dia hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut.
Iye mengaku banyak mendapat keluhan dari warga soal aktivitas yang dianggap mengganggu ketentraman warga sekitar. Namun, pihak manajemen kafe tidak merespon saat diberi tahu.
Ijin keramaian pun kata dia, tidak ada tembusan kepada RT.
Sementara warga lainnya pun mengatakan keributan dan kebisingan musik hingga larut malam sudah sering terjadi . Apalagi bagi warga yang rumahnya berada di sekitar kafe sangat merasa terganggu dari kebisingan dan keributan tersebut.
Sesuai informasi yang dihimpun, terdengar dua kali bunyi tembakan senapan angin dari arah luar lokasi. Tembakan pertama mengenai bagian pinggir plafon kafe. Tembakan kedua diduga memantul dan serpihan mengenai paha seorang pengunjung. Tidak lama berselang, terdengar tembakan susulan yang mengenai kaca pintu arah balkon bagian barat.
Korban bersama rekannya segera meninggalkan lokasi setelah kejadian. Belum diperoleh keterangan resmi mengenai kondisi korban maupun hasil penyelidikan aparat penegak hukum. Pemilik kafe disebut berada di lokasi saat insiden terjadi dan mengetahui peristiwa tersebut.
Selain itu, letak kafe juga persis berada disekitar fasilitas layanan kesehatan turut menjadi perhatian warga. Mereka khawatir aktivitas hiburan dengan intensitas tinggi dapat mengganggu kenyamanan pasien yang membutuhkan ketenangan.
Hingga kini, belum ada penjelasan dari pihak kelurahan maupun aparat kepolisian mengenai status perizinan kegiatan maupun perkembangan penanganan kasus penembakan tersebut. Upaya konfirmasi masih dilakukan.
Dokter pemilik kafe juga hingga kini belum berhasil dimintai keterangan lebih lanjut terkait kejadian tersebut.
Awak media ini telah mengirim pesan ke salah satu dokter yang disebut sebagai pemilik kafe Taka, namun hingga berita ini diterbitkan, pesan yang dikirim awak media ini belum dibalas meski sudah tertanda centang dua.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat terkait segera melakukan peninjauan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan perizinan serta menjaga situasi tetap kondusif, terutama di bulan Ramadan.










































































