Labuan Bajo, suaranusantara.co — Terduga pelaku penyelundupan telur asal Lombok NTB tertangkap tangan saat sedang melakukan pembongkaran telur dari mobil box Shopee. Ironisnya, ‘otak’ di balik perdagangan telur gelap ini diduga kuat adalah anak buah Kepala Dinas Peternakan yang ditugaskan sebagai pengawas produk dari Dinas peternakan Kabupaten Manggarai Barat.
Aksi penyelundupan ini resmi berakhir ketika Satuan Pelayanan Karantina Labuan Bajo menggagalkan distribusi ilegal tersebut pada pada Jumat (10/7).
Modusnya terbilang jenius sekaligus memalukan. Memanfaatkan segel dan tertutupnya mobil box Shopee untuk mengelabui petugas pelabuhan. Sayangnya, sepandai-pandainya menyimpan telur busuk, dalam kasus ini, gelagatnya pasti tetap tercium juga.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan NTT Satpel Labuan Bajo, drh. Kanda Yanuar Muhamad, M.Si, mengambil langkah tanpa kompromi.
Sebanyak 1.5 ton telur tak berdokumen itu langsung divonis untuk “pulang kampung” ke Lombok. Pasalnya, sang pemilik modal, Dedi Septiawan, nekat membawa barang tersebut secara mandiri tanpa restu selembar surat izin pun dari otoritas daerah asalnya.
Tertangkap Tangan di Samping Tempat Ibadah
Keberhasilan ini tak lepas dari kejelian mata seorang petugas Karantina bernama Aloisius. Saat fajar menyingsing sekitar pukul 04.00 WITA, kapal bersandar dan sang sopir dengan percaya diri mengklaim hanya membawa “paket Shopee, pak”.
Namun, intuisi lapangan tidak bisa dibohongi. Beberapa jam kemudian, di tepi jalan Sernaru, persis di samping Masjid Wae Kelambu, mobil itu justru melakukan pembongkaran massal muatan yang ternyata adalah rak-rak telur siap edar.
”Saya tanya subuh-subuh katanya barang paket, tidak ada yang lain. Eh, pas saya lewat Sernaru, mereka sedang asyik membongkar telur. Begitu ditegur, mereka malah acuh tak acuh. Terpaksa saya panggil pasukan, barulah pelabuhan mendadak ramai,” ketus Aloisius mengenang drama penangkapan tersebut.
Drh. Kanda selaku kepala Satuan Pelayanan Karantina Labuan Bajo tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap realita di lapangan.
“Kita sebenarnya sedih. Sama-sama jaga di lapangan, tapi ternyata kita dipermainkan juga oleh oknum dari instansi sebelah,” ujarnya diplomatis, meski nadanya menukik tajam menyindir Dinas Peternakan.
Jurus Cuci Tangan: Dari ‘Pencuri Terencana’ hingga Saling Tuding
Gerah anak buahnya terseret dalam pusaran bisnis gelap ini, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Barat, Abidin S.KH, langsung memasang badan sekaligus melancarkan serangan balik.
Alih-alih membela, Abidin justru melabeli terduga pelaku bernama Ardi sebagai terduga pelaku “pencuri yang terencana”.
”Kemarin saya tanya, ternyata dokumen mereka tidak ada. Ini namanya pencuri! Karena sudah mentok dan tertangkap basah, mereka mulai menjual nama petugas saya untuk perlindungan,” tegas Abidin saat ditemui di ruang kerjanya.
Beliau mengonfirmasi ada indikasi keterlibatan oknum pegawai kontrak berinisial Ardi, yang kabarnya memuluskan pesanan milik saudarinya sendiri.
Namun, birokrasi belum lengkap tanpa bumbu saling tuding. Sadar instansinya kecolongan, Abidin pun melemparkan bola panas kembali ke pihak Karantina.
“Ini juga kelalaian petugas saya, tapi kok Karantina yang bertugas di pintu utama bisa meloloskan mobil itu dari pelabuhan? Saya menyesal, sama-sama di sana tapi kenapa bisa lolos?” tembaknya.
Pedagang Lokal Menjerit: Aturan untuk Rakyat, Petugas Dinas Abaikan Aturan
Skandal ini memicu gelombang amarah dari para pengusaha telur lokal yang selama ini taat asas. Mereka merasa dikhianati oleh sistem.
Di saat para pedagang kecil dipaksa mengurus tumpukan berkas rekomendasi pemasukan yang rumit, oknum pengawas yang digaji oleh daerah itu justru asyik menikmati jalur cepat bebas dokumen.
”Buat kami, surat teguran itu cuma lelucon tidak lucu,” ketus seorang pengusaha telur lokal dengan nada geram. “Oknum pengawas pelabuhan yang ikut bermain seperti ini harus dicopot secara tidak hormat. Jangan sampai kami dipaksa patuh aturan, sementara instansi kedinasan justru menjadi pelanggar aturan yang dibuatnya sendiri” cecar pedagang yang enggan menyebutkan namanya itu.
Laporan terakhir disampaikan Kepala Satuan Pelayanan Karantina Labuan Bajo, drh. Kanda Yanuar Muhamad, M.Si, saat dikonfirmasi soal keberadaan telur pasca pemulangan itu ia memastikan produknya telah tiba di daerah asal.
“Telur sudah sampai di Sapeh, dan sudah dikonfirmasi sama kawan-kawan karantina disana,” Jelas drh. Kanda pada Sabtu (18/7)
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Abidin, S.KH saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait ketegasannya dalam menyikapi pelanggaran fatal yang dilakukan anak buahnya di lapangan, Ia malah memilih bungkam.
Pesan singkat yang dikirim melalui Whatsapp pada Sabtu siang itu terlihat sudah tercentang dua warna biru dan telah terbaca namun tidak direspon.
Kini, publik Manggarai Barat menunggu kelanjutan drama ini. Apakah sanksi tegas akan benar-benar mendarat pada oknum pengawas nakal tersebut, ataukah kasus ini akan menguap begitu saja bersama dinginnya angin malam di Pelabuhan ASDP Labuan Bajo?










































































