Ruteng, suaranusantara.co – Gerak Cepat (Gercep) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai merespons musibah kebakaran yang menghanguskan satu unit rumah di Desa Compang Cibal, Kecamatan Cibal Barat.
Tim Reaksi Cepat BPBD telah melakukan identifikasi serta verifikasi data guna penilaian kerugian (assessment).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Manggarai, Alfred Bombang, mengonfirmasi bahwa timnya sudah tuntas melakukan pendataan di lapangan.
“Tim BPBD sudah melakukan identifikasi terkait bencana rumah terbakar di Compang Cibal,” ujar Alfred kepada media ini, Kamis (29/1/2026).
Sebagai langkah awal penanganan darurat, BPBD telah menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban.
“BPBD sudah memberikan bantuan sembako kepada keluarga yang terkena bencana,” lanjutnya.
Terkait kehilangan tempat tinggal yang dialami tiga kepala keluarga (KK), Alfred memastikan pemerintah tidak tinggal diam.
Ia menegaskan bahwa bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR) akan segera diproses untuk penanganan jangka panjang bagi para korban.
“BPBD tetap akan memberikan bantuan BBR untuk penanganan lebih lanjut. Kita masih berproses, semoga dapat segera terealisasi,” pungkas Alfred.
Sebelumnya, kebakaran hebat melanda satu unit rumah yang dihuni oleh tiga KK di Desa Compang Cibal pada Kamis malam (22/1/2026) pekan lalu.
Api diduga bersumber dari lilin yang digunakan sebagai penerangan alternatif saat wilayah tersebut mengalami pemadaman listrik.
Yolan, salah satu penghuni rumah, mengaku terbangun karena “mimpi aneh” sesaat sebelum asap tebal mengepung kamarnya sekitar pukul 22.00 WITA.
Beruntung, ia berhasil menyelamatkan anak-anaknya sesaat sebelum api meratakan bangunan kayu tersebut dengan tanah hanya dalam waktu lima menit.
Meski tidak ada korban jiwa, musibah ini menyebabkan kerugian materiil yang cukup besar bagi para korban.
Satu unit sepeda motor Honda Fit X, mesin gergaji (sensor), uang tunai Rp6 juta, serta stok pangan berupa beras dan kopi hangus terbakar.
Selain itu, dokumen penting seperti ijazah SMA, kartu sembako PKH, dan dokumen kependudukan lainnya tidak ada yang berhasil diselamatkan.
Saat ini, keluarga Lusia Lin, Andreas Patu, Imelda Indah, Theodorus Pangku, dan Jheni terpaksa mengungsi di rumah tetangga karena kehilangan seluruh harta benda mereka.










































































