Suaranusantara.co – Gelombang unjuk rasa nasional yang mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 telah memasuki fase yang sangat mematikan. Berdasarkan laporan terbaru dari kelompok aktivis hak asasi manusia (HRANA) per 14 Januari 2026, jumlah korban tewas akibat tindakan keras aparat keamanan dilaporkan telah mencapai sedikitnya 2.571 orang.
Angka ini disebut sebagai yang paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir, melampaui skala protes “Woman, Life, Freedom” tahun 2022. Sebagian besar korban dilaporkan tewas akibat penggunaan peluru tajam dan tembakan jarak dekat selama bentrokan di jalanan.
Aksi protes telah menyebar ke lebih dari 180 kota di seluruh 31 provinsi di Iran. Sedikitnya 12 anak-anak dilaporkan termasuk di antara korban tewas. Lebih dari 18.000 orang telah ditahan oleh pihak berwenang.
Pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet nasional sejak 9 Januari 2026 untuk membatasi penyebaran informasi dan koordinasi massa.
Apa Penyebab Utama Demonstrasi?
Meskipun protes kini telah berkembang menjadi gerakan politik untuk menggulingkan rezim (anti-teokrasi), terdapat beberapa pemicu utama yang mengawali gejolak ini:
1. Krisis Ekonomi & Anjloknya Mata Uang
Pemicu utama adalah kondisi ekonomi yang “hancur”. Nilai mata uang Rial Iran anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah (mencapai sekitar 145.000 toman per USD). Hal ini menyebabkan inflasi gila-gilaan, di mana harga pangan melonjak hingga 72% dalam setahun terakhir.
2. Dampak Konflik Regional (Perang 12 Hari)
Sentimen negatif meningkat pasca konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang merusak sejumlah fasilitas nuklir dan infrastruktur penting. Masyarakat merasa lelah karena anggaran negara lebih banyak dialokasikan untuk militer dan kelompok proksi di luar negeri daripada untuk kesejahteraan rakyat.
3. Ketidakpuasan Politik & Represi
Masyarakat menuntut diakhirinya sistem pemerintahan teokrasi. Slogan-slogan seperti “Death to the Dictator” yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei kembali bergema. Kemarahan ini juga dipicu oleh anggaran tahun 2026 yang menaikkan belanja keamanan sebesar 150% di tengah kemiskinan rakyat yang meluas.
4. Masalah Sistemik Lainnya
* Korupsi politik yang mendarah daging.
* Krisis energi yang menyebabkan pemadaman listrik dan gas secara rutin.
* Kekerasan aparat yang terus berulang tanpa adanya reformasi hukum.
Sementara itu, Pemerintah Iran menuduh kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat (di bawah kepemimpinan Donald Trump) dan Israel, sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Namun, para pengamat internasional melihat ini sebagai ledakan kemarahan murni dari rakyat yang tertekan secara ekonomi dan politik.






































































