Labuan Bajo, suaranusantara.co – Warga dari salah satu desa di Kecamatan Lembor Selatan protes, proyek air minum desa hanyalah program bentang pipa namun mantan kepala desa menyebut alasan utamanya karena debit air kecil dan mentalitas masyarakat itu sendiri. Hal ini terjadi di Desa Surunumbeng, Kecamatan Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT)
Persoalan air minum desa Surunumbeng merupakan maslah yang membosankan bagi warga karena setiap kali ada proyek selalu saja tidak mengatasi maslah yang ada, protes warga pun belum mendapat respon dari pemerintah sampai saat ini oleh karena itu warga menyebut bukan proyek air minum bersih tetapi proyek rentang pipa
Hal ini disampaikan oleh salah seorang warga asal kampung Wae Warang yang meminta namanya diinisialkan AA (53) saat dihubungi oleh suaranusantara.co melalui telepon pada Rabu (4/6/2025) lalu
Pihaknya, AA mengaku bosan memprotes soal air minum desa Surunumbeng, bahkan ia mengatakan Pemerintah desa hanya mengerjakan proyek rentang pipa bukan proyek air minum bersih.
“Kalau tentang air minun terus terang kami juga sudah malas dan bosan lah untuk protes ini air minum sejak kepala desanya Siprianus Anjelo itu hanya proyek bentang pipa bukan proyek air minum bersih kalau kami istilahkan di sini. Kenapa kami katakan demikian karena airnya tidak ada sementara setiap tahun itu proyek air minum di desa Surunumbeng. Persoalan ini untuk seluruh desa Surunumbeng yang nota bene airnya mengalir satu hari tetapi lima bulannya tidak ada makanya kami sebut proyek bentang pipa itu,” ungkap AA dengan nada penuh kesal
Dia yang sangat menyayangkan kondisi keprihatinan soal air minum di desanya menerangkan bahwa baik proyek desa maupun kabupaten yang terjadi di desanya hanyalah proyek rentang pipa
“Awalnya dulu itu Kabupaten katanya dan itu hanya bentang pipa airnya tidak ada akhirnya masyarakat potong itu pipa entah masyarakat bawa ke mana. Tahun berikut proyek dari dana desa tetapi itu hanya pipanya terus yang ganti airnya tidak ada. Lalu tahun kemarin ini katanya ada rehab itu tetapi yang diganti hanya pipa airnya tidak ada. terus terang pa hampir setiap tahun kami protes sampai ke Bupati tetapi tidak pernah ada respon jadi kami mau bergerak ke mana lagi,” pungkas AL
Terkait masalah debit air, dia justru mempersoalkan kenapa selalu berpatokan pada sumber air yang sama.
“Kalau itu masalah debit airnya pertanyaan kami apakah tidak ada tehnisnya awalnya untuk melihat mata air itu, kalau memang tidak memungkinkan buat apa habiskan dana tapi ini kan hampir setiap tahun selalu saja lakukan proyek di sumber air yang sama,” ujar AA
Atas tingginya kepedulian AA terhadap persoalan air minum di desanya ia mengharapkan Pemerintah desa maupun Kabupaten dapat mencari sumber mata air yang debitnya cukup.
“Harapan kami bukan tidak ada mata air yang cukup cuma kami juga tidak mengerti tentang proyek dari pemerintah desa atau dari pemerintah daerah alasannya saja setiap tahun itu tidak ada dana. pertanyaan kami kenapa setiap tahun itu rehab mata air yang sama, nanti pipa yang lama dibuang lalu ganti yang baru hanya itu saja kerjanya setiap tahun,” pungkasnya.
Merespon protes warga, Siprianus Anjelo selaku mantan Kepala desa Surunumbeng yang kini duduk di kursi anggota DPRD Manggarai Barat fraksi partai Nasdem mengatakan bahwa persoalan itu hanyalah masalah debit.
“Air ini pada saat disurvei debitnya mencukupi berdasarkan data dari tim survei. tetapi dalam perjalanan saya rasa itu bukan terjadi di desa Surunumbeng saja tetapi di tempat lain juga terjadi seperti itu. Mungkin karena faktor curah hujan sehingga pada saat musim kemarau pasti debitnya berkurang tetapi pada musim hujan pasti full lagi,” tegas Siprianus ketika diwawancarai awak media di rumah kediamannya yang beralamat Sernaru pada Kamis (5/6/2025) pkl 04.13 Wita pekan lalu.
Sebagai mantan Kepala Desa yang mengenal kondisi kebutuhan masyarakat ia menjelaskan bahwa sekarang dua sumber mata air itu sudah disatukan untuk kebutuhan dua anak kampung itu.
“Ada dua mata air salah satunya wae Maras, dulu kita pernah satukan lalu kemarin pada saat PJ yang terbaru ini diusahakan sehingga satu sumber mata air dikhususkan untuk satu dusun sedangkan satunya lagi bisa digunakan untuk beberapa dusun tertentu dan proyek ini bersumber dari dana desa,” Pungkas Siprianus dengan nada lembut
Meskipun dirinya mengakui proyek itu sudah dikerjakan dua kali namun ia juga kesal dengan kelakuan masyarakat yang merusak pipa dan meteran serta selalu mempunyai ketergantungan pada bantuan pemerintah.
“Ya memang dua kali proyek air satunya Pamsimas kalau tidak salah tetapi itu tadi yang namanya masyarakat ini tidak pernah merasa puas dengan pelayanan sesudah itu debitnya berkurang meteran itu juga dirusak dan selalu mengharapkan pemerintah untuk proaktif,” tuturnya
Sebagai corong aspirasi rakyat, Siprianus menjelaskan bahwa ia masih memiliki hati untuk mengatasi persoalan itu apa lagi desa itu adalah tempat kelahirannya.
“Kalau umpamanya secara pribadi ya saya punya hati untuk berpikir tentang persoalan air minum di atas apa lagi itu tempat kelahiran saya. Satu sisi kita sama-sama tahu bahwa itu tidak gampang apa lagi dengan kondisi efisiensi anggaran sekarang ini tetapi saya tetap bantu lagi apa lagi kemarin saat reses saya sampaikan lagi tolong itu dimasukan dalam rumusan desa lalu kemudian dibawa Musrenbang cam kemudian didorong lagi untuk dibawa ke Kabupaten untuk kita kawal. Mana kala ada keluhan dari masyarakat yang berkaitan dengan air minum pasti kita akan perhatikan,” tandas politisi NasDem itu dengan penuh optimis