Labuan Bajo, suaranusantara.co – Geliat gemilang, Albertus Elson Dahim, Putera asli Kempo, menjadi pelopor pengembangan Rumah Subsidi Pertama di Labuan Bajo, menjawab harapan masyarakat berpenghasilan rendah merupakan inovasi baru sebagai peluang bisnis di kota Pariwisata super premium Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Konsep properti ala Albertus Elson Dahim dengan sapaan akrab Albert bukan lagi mimpi yang mengharukan melainkan bukti nyata yang akan dilakukannya dengan membangun 1000 unit rumah subsidi, sasarannya masyarkat berpenghasilan menengah.
Albertus menjelaskan, pembangunan perumahan subsidi merupakan peluang bisnis yang mestinya ditangkap kaum muda dalam mengembangkan bisnis baru yang dapat mendobrak prekonomian masyarakat di kota Labuan Bajo. Tahap pertama yang sedang berjalan adalah pembangunan sekitar 1000 unit rumah subsidi.
“Menjemput program pusat era presiden Prabowo Subianto untuk menghadirkan 3 juta unit perumahan subsidi, saya mengambil 1000 unit rumah yang direncanakan akan dibangun di Labuan Bajo. Konsep ini memberi dampak yang signifikan bagi yang mau mendapatkan rumah dengan harga murah. Mendapatkan penyewanya tentu tidaklah susah sebab sistim bisnis era digitalisasi di daerah Pariwisata dapat memantik wisatawan untuk menyewa rumah tersebut,” Jelas Albertus dengan nada meyakinkan saat diwawancarai awak media, bertempat di kediamannya yang terletak di Golo Koe, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (8/3/2026) sore.
Konsep ini dihadirkannya sebagai langkah konkrit terciptanya lingkungan yang bersih dan terminimalisir nya konflik sosial di kota Pariwisata.
“Kita tidak bisa bayangkan bagaimana keadaan kota Labuan Bajo pada 20 tahun mendatang, tentu dengan padatnya penduduk di satu lingkungan justru potensi konflik sosialnya sangat tinggi. Sehingga dengan adanya konsep perumahan ini, maka lingkungan akan ditata dengan baik, pemerintah juga akan lebih muda mengontrol dan mengidentifikasi masalah sosial yang terjadi,” tandas pengusaha lokal yang merupakan aktor intelek lahirnya bisnis moderen di dunai properti.
Kata Albert Konsep properti ini memiliki korelasi dengan bisnis lain seperti industri peternakan babi moderen dengan target Hotel dan Restoran di Labuan Bajo.
“Ini merupakan respon terhadap meningkatnya kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan dari China yang setiap tahun terus bertambah. Sebab 90 ℅ wisatawan cina itu menyukai daging babi dan ini menjadi peluang strategis kita di kota Pariwisata. Wisatawan yang datang juga tidak mengalami kesulitan mendapatkan rumah tinggal sementara karena kita sudah menyediakannya” ujar Albertus.
Ia menilai wisatawan asal China memiliki preferensi kuliner yang cukup kuat terhadap menu berbahan dasar daging babi. Kondisi ini menurutnya, membuka peluang ekonomi yang besar bagi daerah apabila rantai pasok pangan stabil dan berkelanjutan.
Selama ini, kata Albertus, sejumlah restoran di Labuan Bajo yang menyajikan menu berbahan dasar daging babi masih menghadapi keterbatasan pasokan. Akibatnya, beberapa usaha kuliner tidak dapat beroperasi secara konsisten karena bahan baku yang terbatas.
“Restoran yang menyajikan menu daging babi kadang buka dan kadang tidak buka karena pasokan bahan bakunya terbatas. Karena itu kita melihat pentingnya membangun industri peternakan babi secara modern agar kebutuhan pasar pariwisata bisa terpenuhi,” jelasnya. Maka dalam 10 tahun ke depan Labuan Bajo bisa menghadapi persoalan kepadatan, kebersihan, dan ketertiban kota,” ujarnya.
Albertus mengungkapkan bahwa proyek perumahan yang sedang dikembangkan di kawasan Golo Koe bahkan sudah menarik minat pembeli dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri.
“Perumahan yang kami bangun di Golo Koe sudah ada pembeli dari Amerika dan dari Jawa. Ini menunjukkan bahwa Labuan Bajo memiliki daya tarik yang sangat besar,” katanya.
Di Labuan Bajo sendiri, Albertus menargetkan pembangunan sekitar 1.000 unit rumah subsidi sebagai bagian dari upaya mendukung program tersebut sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
“Tujuan utama program ini adalah mencegah tumbuhnya pemukiman kumuh sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda, terutama masyarakat berpenghasilan rendah, untuk memiliki rumah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kelompok yang menjadi prioritas penerima rumah subsidi antara lain Aparatur Sipil Negara (ASN) yang masih tinggal di rumah kos serta para pekerja swasta yang selama ini belum memiliki rumah sendiri.
Menurut Albertus, kebutuhan rumah subsidi di Labuan Bajo saat ini diperkirakan mencapai sekitar 3.000 unit sehingga peluang pengembangan sektor perumahan masih sangat besar ke depan.
“Potensi pasar di Labuan Bajo sangat luar biasa. Yang dibutuhkan sekarang adalah perubahan cara berpikir dan keberanian untuk mengembangkan potensi yang ada,” pungkasnya.
Dalam pengaplikasian perumahan subsidi ini, pihaknya murni mengandalkan modal swasta sedangkan pemerintah hanya dilibatkan dalam urusan administrasi perijinan saja.
Selain itu Pihaknya juga mengajak kaum muda yang memiliki geliat bisnis di Labuan Bajo agar lebih dini Melihat konsep bisnis ini sebagai peluang dengan penghasilan yang fantastis.
Kehadiran sektor swasta dalam pembangunan daerah baginya bukan hanya sekedar mencari keuntungan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan industri perumahan, peternakan, pertanian, dan perkebunan secara terpadu.








































































