Manggarai, suaranusantara.co – Riuh rendah suara warga memecah keheningan Kecamatan Rahong Utara, Kamis (2/7/2026) siang. Di sebuah aula yang menjadi saksi bisu, wajah-wajah tegang perlahan mencair menjadi senyuman. Hari itu, Desa Golo Langkok sedang merajut cerita penting bagi masa depan mereka: penetapan calon dan pengundian nomor urut Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) periode 2027–2034.
Golo Langkok tidak sendiri. Hari itu, ada 42 desa di seantero Kabupaten Manggarai yang menggelar hajatan serupa. Namun di desa ini, atmosfer kompetisi terasa begitu hangat dan komunal.
Di dalam ruangan, perwakilan dari empat gendang atau wilayah adat yang menjadi pilar persaudaraan warga, yakni Gendang Beokina, Kotok Tahang, Wangko Kondong, dan Topak duduk berdampingan.
Kehadiran para tokoh adat, aparat desa, BPD, hingga kawalan ketat dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas, menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar urusan tusuk-menusuk gambar di bilik suara, melainkan sebuah ritus budaya dan politik yang sakral.
Antusiasme yang Meluap
Ketua Panitia Pilkades Desa Golo Langkok, Alfons, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sejak gerbang pendaftaran dibuka pada 28 hingga 30 Juni lalu, animo warga untuk memimpin desa setingkat Mega proyek harapan. Lima putra terbaik desa mendaftarkan diri, dan kelimanya lolos verifikasi administrasi.
”Pilkades Desa Golo Langkok kali ini sangat menarik karena antusiasme masyarakat begitu tinggi,” ujar Alfons dengan mata berbinar.
Bagi Alfons, meloloskan lima calon hingga tahap pengundian nomor urut adalah sebuah keberhasilan awal. Namun, tugas berat sesungguhnya adalah merawat harmoni pasca-acara.
“Kami berharap seluruh proses demokrasi di Desa Golo Langkok terus dijaga dengan baik, berlangsung aman, damai, tertib, serta terhindar dari perpecahan,” tambahnya.
Pesan ‘Riang Gembira’ dari Nomor Urut 4
Saat kotak pengundian dibuka, ketegangan sempat memuncak, lalu pecah oleh tepuk tangan. Lima nomor urut telah berpindah tangan ke masing-masing calon.
Salah satu sorotan jatuh pada Rikardus Ngaca, yang resmi mendapat nomor urut 4. Alih-alih melempar jargon politik yang kaku, Rikardus justru membawa narasi yang menyejukkan. Baginya, nomor urut hanyalah angka, tetapi persaudaraan warga Golo Langkok adalah harga mati.
Rikardus mengajak warganya untuk memandang Pilkades bukan sebagai arena pertempuran yang saling menjatuhkan, melainkan sebagai festival budaya politik yang menyenangkan.
”Mari kita jadikan Pilkades Desa Golo Langkok sebagai pesta demokrasi yang penuh persaudaraan dan kebersamaan. Perbedaan pilihan politik adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi,” kata Rikardus dengan nada optimistis.
Ia menegaskan pentingnya memberikan edukasi politik yang sehat bagi generasi muda di desa tersebut. Politik, di mata Rikardus, harus berjalan dengan “riang gembira”.
Dengan strategi politik yang santun, bermartabat, dan berorientasi pada kemajuan serta transparansi desa, Rikardus optimistis melangkah ke tahapan berikutnya.
Ia berharap, riak-riak kegembiraan hari ini akan terus terjaga hingga hari pemungutan suara nanti, melahirkan pemimpin yang benar-benar dicintai dan mampu membawa Golo Langkok menuju masa depan yang sejahtera.
Hari mulai sore di Rahong Utara, prosesi formal itu pun usai. Warga pulang ke rumah masing-masing, membawa nomor urut jagoan mereka, namun tetap dengan satu kepastian: mereka masih meminum dari mata air yang sama dan bernaung di bawah atap adat yang sama.










































































