Manggarai Timur, suaranusantara.co – Sore itu, Selasa (14/4), langit di Kelurahan Mando Sawu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, tampak seperti biasa. Namun, di balik dinding asrama polisi yang sudah tidak terpakai, sebuah keheningan yang menyesakkan sedang menyelimuti institusi Polres Manggarai Timur.
Bripka Andreas Riberu (38), sosok yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dan pernah dipercaya menjadi pengawal pribadi (Walpri) Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas, ditemukan tutup usia. Ia pergi dengan cara yang tak disangka-sangka: mengakhiri hidup di sebuah bangunan kosong
Detik-Detik Terakhir di Pos pol Mano
Cerita pilu ini bermula dari sebuah obrolan santai di sore hari. Sekitar pukul 15.00 WITA, Didimus Jandu (18) masih sempat bercengkerama dengan Bripka Andreas di Pospol Mano. Mereka berbagi setengah botol minuman alkohol lokal (moke), sebuah interaksi biasa sebelum Didimus pamit untuk mencukur rambut.
Namun, suasana santai itu berubah menjadi kegelisahan ketika sebuah nomor asing—yang belakangan diketahui milik rekan sejawat korban, Briptu Rian Mike—terus menghubungi Didimus. Suara di seberang telepon menanyakan keberadaan sang Kapospol dengan nada cemas.
”Nomor itu meminta saya mencari pak Andreas di rumah kosong samping Pos pol, mungkin dia ada di lantai atas,” kenang Didimus.
Insting itu terbukti benar, namun terlambat. Saat kaki Didimus melangkah ke dalam bangunan tua itu pada pukul 17.20 WITA, ia tak menemukan percakapan, melainkan tubuh yang sudah tergeletak di lantai dengan jeratan tali nilon di leher.
Teka-Teki Panggilan Video
Kepergian Bripka Andreas meninggalkan jejak digital yang singkat namun berkesan bagi Leonsius Koreng Janggut (20). Sebelum kejadian, Leon sempat melakukan panggilan video dengan almarhum.
”Saya tanya kenapa baru kelihatan, beliau menjawab sedang sibuk selama ini,” tutur Leon. Tidak ada nada pamit, tidak ada firasat tajam, hanya jawaban singkat tentang kesibukan yang kini terkubur bersama raga sang polisi.
Kesibukan itu kini telah usai. Tim Identifikasi Satreskrim Polres Manggarai Timur yang tiba di lokasi pada pukul 18.45 WITA menemukan beberapa barang bisu: satu botol plastik sisa minuman, seutas tali nilon hijau, dan telepon genggam yang tak lagi berdering.
Perpisahan dalam Keikhlasan
Hasil medis dari dr. Maria Helen (Puskesmas Mano) mengonfirmasi bahwa tidak ada jejak kekerasan lain pada tubuh korban. Kematian Bripka Andreas murni akibat sumbatan jalan napas karena jeratan tali.
Di tengah duka yang mendalam, keluarga besar Bripka Andreas menunjukkan ketegaran yang luar biasa. Mereka memilih untuk tidak memperpanjang duka melalui jalur hukum atau autopsi. Bagi mereka, ini adalah takdir yang harus diterima dengan tangan terbuka.
”Kami menerima kematian ini dengan ikhlas sebagai takdir,” ungkap perwakilan keluarga dalam surat pernyataan resmi mereka.
Penghormatan Terakhir
Kini, jenazah almarhum telah dibawa ke rumah duka di Hombel, Kelurahan Mbamuku, sebelum diberangkatkan ke Cacar untuk peristirahatan terakhir. Polres Manggarai Timur kehilangan salah satu putra terbaiknya—seorang abdi negara yang menutup tugasnya dalam kesunyian di sebuah asrama tua.










































































